Barapan Kebo ~ Pemeran Utama

Barapan Kebo ~ Pemeran Utama

~ Kerbau Sebagai Pemeran Utama Pertunjukan Sumabawa ~

Indonesia adalah sebuah negara agraris. Sebagian besar penduduknya bergerak dibidang pertanian. Tradisi di Indonesia yang tidak lepas dari kebiasaan dan lingkungan masyarakatnya, dan salah satu ikon kebiasaan masyarakat Indonesia yang melekat adalah bidang agraris. Kegiatan agraris tersebut tidak lepas dari hewan ternak seperti kerbau. Hadirlah kerbau sebagai ikon tradisi agraris di daerah Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Tradisi masyarakat dengan ikon kerbau ini dikenal dengan sebutan barapan kebo.

Barapan kebo merupakan tradisi permainan rakyat yang berasal dari masyarakat Samawa, Nusa Tenggara Barat. Masyarakat Samawa adalah sebutan bagi suku masyarakat Sumbawa. Istilah barapan kebo berasal dari bahasa Sumbawa, dimana barapan bermakna balapan dan kebo berarti kerbau. Tradisi ini dilakukan dengan mengendalikan sepasang kerbau yang disatukan agar dapat berlari dengan cepat dalam tantangan medan pacu berlumpur. Pengendalian sepasang kerbau ini dibantu dengan rangkaian kayu yang dirakit dan ditempelkan di pundak kerbau dengan tujuan agar kedua kerbau dapat berlari secara beriringan. Rangkaian kayu dalam barapan kebo ini disebut noga.

Dalam sejarah, barapan kebo lahir sebagai rasa syukur yang diwujudkan pada acara selamatan masyarakat setempat dalam tradisi bertani. Hal tersebut dikarenakan hadirnya kerbau sebagai pemeran utama dalam persektuan dengan petani untuk membajak sawah agar dapat ditanamani padi sebanyak tiga kali musim panen dalam setahun. Dengan adanya bantuan kerbau ini menjadikan ranah Sumbawa yang berstruktur tanah liat dapat digarap sesuai harapan para petani, sehingga lahirlah barapan kebo sebagai tradisi masyarakat Samawa.

Dalam pelaksanaannya tradisi barapan kebo disertai oleh joki dan sandro. Joki adalah orang yang mengendalikan dan mengiringi kerbau sampai ke sakak (garis finish). Sedangkan istilah sandro berasal dari bahasa Sumbawa yang berarti dukun. Sandro biasanya dikenal sebagai orang yang dianggap sakti karena memiliki ilmu supranatural. Dalam acara tradisi ini, sandro akan terlihat mengenakan pakaian serba hitam. Peran sandro dalam tradisi ini adalah sebagai “pengganggu” kerbau yang sedang dikemudikan oleh joki agar kerbau tersebut terjatuh atau berbelok arah. Untuk menyiasati sandro “pengganggu” yang dalam pertandingan, joki akan didampingi oleh sandro lain yang akan mengendaliakan gangguan tersebut agar kerbau yang dipacu tetap stabil. Karena siasat inilah ilmu para sandro dipertarungkan dan disaksikan oleh masyarakat setempat. Namun kini seiring dengan modernisasi, keterlibatan langsung sang sandro dalam tradisi ini sudah jarang ditemui.

Tradisi yang dalam bahasa Indonesia disebut balapan kerbau ini biasanya diselenggarakan masyarakat pada saat menjelang musim tanam. Namun seirama dengan pesatnya perkembangan pariwisata di Nusa Tenggara Barat, tradisi kebolehan kerbau ini dilaksanakan hampir setiap tahun dalam berbagai acara dan kepentingan lainnya. Kepentingan tersebut kemudian berkembang sebagai paket pariwisata yang ditawarkan dalam beberapa hotel di sumabawa sebagai nilai jual bagi para tourist. Lebih dari itu kini tradisi bermaskotkan kerbau ini sering tampil sebagai acara pertandingan berhadiah yang disemarakkan oleh setiap desa.

Pertandingan barapan kebo ini menawarkan berbagai hadiah, diantaranya dapat berupa trophy, pakaian, bahan sandang hingga peralatan elektronik. Namun di lur arti dari berbagai bentuk hadiah tersebut, hal yang menjadi nilai gengsi bagi peserta dalam pertandingan ini adalah perjunjungan harga diri dan rekor kekuatan kerbau yang dapat meningkatkan level harga dari pasangan kerbau tersebut. Level harga kerbau dengan rekor pertandingan barapan kebo yang baik dapat menyentuh nilai ratusan juta rupiah.

Dibalik segala wujud pengembangan dan pelaksaan tradisi yang ada di seluruh Indonesia, barapan kebo telah mengikuti ritme perkembangan pariwisata nusantara. Dalam budaya tradisi Nusa Tenggara Barat, barapan kebo menunjukkan tradisi identitas Indonesia sebagai negera agraris. Indentitas tersebut sebagai ciri khas masyarakat Indonesia yang akan terus diwariskan serta dipelihara makna dan keasliannya. Enjoy NTB.

 

by: Denek Bini Tindih RingUbaya

Leave a Reply